20071028

Konsep Tuhan menurut "Urang Uluk", Gelida.

Konsep Tuhan menurut “Urang uluќ”
Oleh. Benyamin R. F.

Masyarakat adat Jelai (atau Dayak simpang) merupakan masyarakat adat yang memiliki kekhasannya sendiri. Mereka adalah orang Dayak Jelai[1] / Dayak simpang yang berdomisili di kecamatan Jelai Hulu, Kab. Ketapang, Kalimantan Barat. Masyarakat adat jelai ini identik dengan sebutan Urang Uluќ. Urang uluќ[2] bisa juga berarti ‘orang hulu’, hulu menunjuk pada hulu sungai, suatu dialog yang menunjuk hulu sungai. Jelai ini menginduk ke salah satu sungai di gunung palung dan bermuara di Kalimantan Tengah, laut Jawa. Sebutan itu sebenarnya untuk membedakan mereka dengan orang Melayu / meyagaќ ( suku Melayu yang mendiami kec. Jelai Hulu), lebih jauh urang uluќ itu identik dengan mereka yang bisa makan daging babi, sedangkan orang Melayu tidak bisa. Urang uluќ juga identik dengan orang yang pada umumnya menganut kepercayaan tradisional dan lebih condong kepada sistem kepercayaan pantheisme. Maka urang uluќ dan orang melayu tidak bisa se-kampung. Tetapi tidak berarti kerukunan tidak terjaga. Penulis sendiri adalah Urang uluќ, lahir dan dibesarkan dalam budaya urang uluќ.
Masyarakat adat Jelai / Urang uluќ mempunyai konsep umum tersendiri tentang Yang Ilahi. Mereka menamakannya Duataќ, suatu nama yang tidak boleh sembarangan disebut. Duataќ merupakan tokoh yang membuat segala sesuatu ini ada, Ia adalah programer segala ciptaan yang kelihatan ini. Ia transenden sekaligus imanen. Duataќ merupakan juga tempat pengaduan terakhir bila terdapat suatu masalah yang berada pada jalan buntu.[3]
Urang uluќ menganut sistem kepercayaan pantheisme + politheisme. Mereka percaya akan bayak roh, segala sesuatu yang ada ini mempunyai rohnya tersendiri, maka setiap kali mereka hendak beraktivitas terlebih dahulu mereka harus berbicara atau minta ijin pada roh yang menjaganya (roh yang menjaga hal yang berkaitan dengan apa yang mau kita kerjakan, misalnya ketika seseorang mau memancing, terlebih dulu ia minta ijin pada penjaga air itu). Mereka sangat mentaati aturan lisan yang berhubungan dengan keyakinan akan Yang Ilahi (akan roh-roh itu). Urang uluќ terikat batin dengan aturan-aturan itu yang diwariskan secara lisan. Tidak jarang aturan ini mengkondisikan mereka menjadi kaku dalam bertindak, kurang kemandirian, sebab setiap kali mau bertindak harus bertanya pada orang tua yang dianggap bijak dan mengerti banyak tentang adat istiadat.
Dalam paper sederhana ini penulis mau mengetengahkan sedikit tentang konsep Duataќ dalam pemahaman urang uluќ. Kalau boleh penulis batasi, aplikasi semi-geograpis tulisan ini, Kec. Jelai Hulu khususnya Deranuk, Limus, Celengan. Mengenai pemakaian kata Duatak, penulis berusaha menggeneralisasikannya dari diri yang Ilahi, dari ketiga kampung tadi. Tulisan ini lebih merupakan ulasan-refleksif oleh penulis sendiri sebagai Urang uluk.

I. Mata pencaharian Urang uluќ.

Ketika hutan masih lebat dan subur, Urang uluќ pada umumnya belakau[4]. Dari cerita rakyat yang beredar, konon dulu mereka mengalami masa keemasan dalam belakau, ibaratnya tanah berlimpah susu dan madunya, alam betul-betul mensejahterakan mereka. Dalam situasi seperti itu tidak sedikit dari urang uluќ yang memegang prinsip “carve diem”, kelangkaan komiditi yang dapat menghasilkan uang menjadi indikasi tersendiri di masa sekarang.
Sistem belakau yang nomaden membuat lahan menyempit saat ini. Pendekatan pertanian (semacam penyuluhan) yang intensif dari pihak yang terkait masih jauh dari kata terealisasi oleh penduduk. Adat dan kebiasaan urang uluќ primitif (untuk menyebut dahulu kala) terpelihara sampai ke anak cucu mereka, termasuk kebiasaan belakau nomaden.
Walaupun mereka berdiam di sepanjang tepi sungai jelai, tetapi mereka tidak lalu menjadikan sungai itu sebagi lahan mata pencaharian. Belakau tetap menjadi ‘idola’. Sungai jelai hanya digunakan untuk keperluan pelengkap, dan juga lalu lintas air (jalur perdagangan). Bahan sembako biasanya diangkut dari Kalimantan Tengah melalui sungai jelai ini.

II. Sistem Religi.

Urang uluќ mempunyai cara tersendiri dalam berelasi dengan Yang Ilahi. Mereka mengungkapkannya dalam berbagai cara yang termuat dalam upacara adat dan upacara yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Dalam upacara adat inilah kita akan dapat dengan jelas melihat pemahaman Urang uluќ atau konsep mereka akan Tuhan /Yang Ilahi.

2.1. Berayah.

Berayah merupakan ritual dalam sistem religi mereka. Sulit bagi kita dan terutama bagi penulis membawa arti kata itu secara penuh ke dalam bahasa Indonesia, apalagi memahaminya dari sudut etimologi, sebab hampir tidak ada literatur yang mencoba mengangkat topik itu. Namun menurut pengalaman penulis, kata itu dapat berasal dari kata raya, merayakan; suatu perjamuan pesta dengan dunia yang lain. Intensi ritual ini hanya ada dua; untuk kesembuhan orang sakit dan pentabalan Balian[5] yang baru. Berayah ini biasanya sebagai jalan puncak apabila dengan berbagai cara yang telah diupayakan sisakit tidak juga lekas sembuh. Ritual ini mirip dengan pesta; ada alat musik khusus yang mengiringinya, masakan khusus, busana pemimpin yang khusus pula, semua kekhasan itu berorientasi pada dunia transenden dalam pandangan mereka, semacam upaya kontekstualisasi dengan dunia seberang. Ritual itu sendiri tertuju kepada Duataќ, Yang Ilahi, tempat roh dari yang sakit itu berada sementara, Duataќ-lah sumber segala kesembuhan, Ia sekaligus sebab dan asal. Nah, Balian ini merupakan perpanjangan tangan Duataќ., lebih kena artinya bila kita katakan delegatus. Untuk menjadi Balian ini tidak bisa sembarangan orang, hanya dia yang mempunyai kharisma tersendiri-lah yang bisa, pewarisan kharisma dari yang senior ( lebih pas kita sebut dinasti kharisma), mereka harus ditahbiskan oleh Balian senior. Senioritas dalam relasi mereka sangat jelas, tetapi tidak membuat relasi di antara mereka kaku.

2.2. Peristiwa kesurupan dalam berayah, sebagai simbol kehadiran Duataќ, Yang Ilahi.

Sementara seorang Balian membangun hubungan yang akrab / intim dengan Duataќ, pada saat itu jugalah sebuah persatuan yang lebih besar akan muncul. Momen itu menjadi sebuah proses semakin meningkatnya integrasi dan identifikasi satu sama lain, kodrat kemanusiaan Balian diserap memasuki alam Duataќ. Mereka menamai momen ini dengan kata “lalap”(pingsan sejenak). Sejauh pengalaman dan pengamatan penulis, tanpa verifikasi ilmiah, hal itu nyata terjadi. Pada saat lalap inilah komunikasi Balian dengan Duataќ terjalin mesra. Balian segera menyampaikan intensinya, dan Duatak mendengarkannya. Isi komunikasi keduanya hanya diketahui oleh Balian.
Dalam keadaan lalap itu Balian tidak sadarkan diri, dan biasanya itu terjadi di pertengahan ritual berayah. Jika berayah itu dipimpin oleh lebih dari satu orang Balian (mereka berkonselebrasi) maka kejadian lalap itu dapat menular ke Balian yang lain. Menurut mereka itulah klimaks dari segala relasi dengan Duataќ. Biasanya musik yang mengiringi ritual ini terhenti sejenak manakala Balian utama lalap. Untuk menyadarkan Balian yang lalap, tidak semua orang yang terlibat dalam ritual itu sanggup. Balian yang lalap biasanya ditibuќ (dipukul dengan seludang pinang = bakal calon buah pinang) oleh mereka yang pantas (walau demikian sulit juga untuk menentukan kriteria yang pantas itu yang bagaimana).

3.3. Pohon sentral.

Seluruh ritual berayah terpusat pada satu pohon sentral yang berada persis di tengah rumah. Pohon yang dimaksud terbuat dari bambu berdiameter ± 10 cm. Pohon ini menaggung semua pernak-pernik simbol kehidupan. Sekilas pohon itu tampak seperti busana asli orang Mongolia. Arsitek pohon ini adalah Balian dengan Nyanya-nya.
Fungsi pohon ini ada 2 macam. Pertama sebagai lambang dunia eskatologis, (tempat dengannya Balian sampai pada dunia seberang) dan terakhir sebagai medium, gelanggang, antara Balian dengan Duataќ. Selama perayaan berlangsung biasanya tangan seorang Balian selalu menyentuh, memegang pohon tersebut untuk mencari kehendak Duataќ, dan musik khusus tidak berhenti mengiringi. Baru sesudah Balian mandapatkan suatu wasiat dari Duataќ, ia boleh meninggalkan pohon itu dan menuju ke tempat yang sakit.

III. Pemahaman mereka akan penciptaan bumi.

Urang uluќ percaya bahwa Duataќ-lah yang menciptakan jagat raya dan semua yang ada di dalamnya. Wujud tertinggi itu begitu mulia dan tidak bisa didekati tanpa perantara: biasanya Balian dan Demung adat (Demung adalah kepala suku di kampung itu, dan jabatan seorang Demung belangsung (succesio)secara / dengan sistem dinasti). Mereka ini nara sumber bagi pengetahuan akan alam dan segala yang ada. Apa yang mereka katakan biasanya kebal salah (infalibilitas).
Urang uluќ mengerti dunia ini sangat eksklusif. Dunia ini produk Duataќ, Ia awal dan akhir. Tidak ada suatu hikayat, dongeng yang khusus yang berbicara tentang proses penciptaan mulai dari awal; cerita yang beredar sekarang bahwa bumi sudah tersaji untuk mereka. Manusia pertama adalah Sariulun ( Ia tokoh sentral bila Urang uluќ berbicara tentang kebijaksanaan). Kemudian Iguќ dan Akam ( mereka adalah representasi orang bodoh dan pintar). Urang uluќ percaya bahwa segala tindakan mereka dalam kontrol Duataќ, maka tidak boleh bertindak di luar kehendaknya. Ini menjadi dasar urang uluќ menghormati alam dan sesama. Alam di sekitar mereka diyakini mempunyai sejarah dan penjaganya. Maka setiap lembah, sungai, hutan lebat, danau dan lain-lain, masing-masing mempunyai sejarah terjadinya yang terang dalam dongeng. Dongeng sebagai media untuk mentransformasikan warisan berharga nenek moyang dan segala yang terjadi di jaman purba-kala. Hukum lisan juga sampai kepada generasi sekarang melalui dongeng.
Pohon besar dan segenap marga-satwa mengahdirkan diri-Yang-Ilahi (pantheisme), bagi mereka. Segala tindakan satwa itu dalam momen penting dimengerti sebagai pembawa pesan Duataќ, maka harus ditafsirkan secara mendalam. Misalnya dalam momen belakau, bila saat menabas ditemukan ular sawa yang melingkar membentuk piramid, tuan lakau langsung bahagia sebab nanti lakau itu akan menghasilkan padi bertumpuk-tumpuk seperti tumpukkan ular sawa itu (interpretasi ini memang aneh tapi nyata). Jadi antara alam, manusia dan hewan terjadi suatu komunikasi, suatu relasi yang khusus, yang tidak bisa dikatakan hanya bisa dirasakan dan dilihat.

4.1 Penciptaan manusia.

Penciptaan bumi oleh Duataќ dimengerti oleh urang uluќ sebagai yang kompleks (tidak menghilangkan makna ‘tersaji’). Dunia diciptakan serentak dengan manusia bukan per-fase. Demikian juga penciptaan manusia; serentak perempuan dengan laki-laki. Duataќ “menampaќ” dunia ini sekaligus menciptakan manusia. Manusia pertama yang diciptakan bukanlah kodrat tapi jasmani. Manusia diciptakan serentak dengan kesadaran sebagai ‘laki-laki’ dan sebagai ‘perempuan’. Tumbuhan dan hewan diyakini mengalami evolusi sedangkan manusia tidak. Tese ini berakibat pada sintese bahwa segala hewan boleh “dimakan”. Sedangkan tumbuhan diyakini mengalami evolusi yang berujung pada kepunahan (sebab bisa dikuasai). Mereka mengatakan bahwa jaman dulu biji padi itu sebesar buah jarǐng (jengkol), sekarang seperti biji pasir.

[1] Jelai dalam bahasa setempat adalah sungai yang besar, dan mereka mendiami sepanjang aliran (ditepi) sungai itu.

[2] Aksen di atas huruf, mau menekankan bunyi akut pada kata itu.

[3] Ia merupakan wujud tertinggi yang bila mau menyebutnya perlu persiapan batin. Yang melanggar akan mendapat hukuman darinya. Segala upacara dalam sistem religi urang uluќ tertuju pada Duataќ dan semata-mata untuk menyenangkan hatinya.

[4] Belakau berarti berladang; membuat ladang untuk ditanami padi dan tanaman lain yang menunjang kehidupan. Belakau ini terdiri dari 8 proses; betaruќ (adalah proses survey dan minta ijin kepada Duataќ sang penjaga dan pemeberi hasil), menabas (proses pembabatan tahap pertama), menyakat (proses menebang pohon yang besar-besar) mencucul (membakar) kembarih (proses membersihkan kayu-kayau yang tidak habis terbakar) menugal (menanam padi) menggurun (membersihkan gulma / dalam pengertian setempat ‘gurun’) bahanyiќ (proses menggetam, memanen).

[5] Balian adalah sebutan untuk dia yang berkuasa atas pesta itu, atau dia yang dapat menghubungkan dunia kita dengan dunia yang lain itu (dalam arti tertentu ia dapat berarti delegatus dari dunia yang lain itu).

Tidak ada komentar: